NUSANEWS COM || YOGYAKARTA, 22 September 2026 — Bukan sekadar memangkas pohon. Bukan pula sekadar memanen buah. Di Bangirejo, sebuah persoalan lingkungan justru menjadi pintu bertemunya pemerintah, organisasi kampung, dan warga dalam semangat gotong royong.
Selasa (22/9/2026), jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Yogyakarta bersama Forum Kampung Panca Tertib (FKPT) Bangirejo, petugas pruning, dan masyarakat Kelurahan Karangwaru, Kemantren Tegalrejo, bergerak bersama melakukan pemangkasan sejumlah pohon yang dahannya telah mengenai jaringan kabel PLN.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus antisipasi potensi gangguan, terlebih ketika musim hujan tiba.
Satu pohon matoa dan dua pohon mangga menjadi sasaran pruning. Namun, pekerjaan yang awalnya berangkat dari kebutuhan penataan lingkungan itu berubah menjadi suasana penuh keakraban ketika pohon matoa yang dipangkas ternyata juga sedang berbuah dan dapat dipanen bersama.
Kepala Bidang Perlindungan Masyarakat Satpol PP Kota Yogyakarta, Suwarna, S.I.P., M.Si., bersama jajaran hadir menyaksikan sekaligus mendukung kegiatan tersebut.
“Kesigapan petugas lapangan bersama Satpol PP, pengurus FKPT Bangirejo dan warga melakukan pruning sekaligus memanen matoa menjadi kegembiraan tersendiri. Semuanya dapat menikmati kebersamaan dalam suasana kekeluargaan,” ujar Suwarna.
Semangat gotong royong bahkan diwarnai kejadian kecil yang mengundang tawa. Koloni semut yang berada di sekitar pohon matoa rupanya tidak mau kalah mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Koordinator FKPT Bangirejo, K. Herman Setiawan, menyebut hampir semua peserta gotong royong sempat merasakan gigitan semut.
“Semutnya luar biasa. Hampir semua yang ikut gotong royong merasakan gigitannya. Tingkah masing-masing personel ketika kepanasan digigit semut justru menjadi cerita lucu dan membahagiakan,” ungkap Herman.
Bagi FKPT Bangirejo, kebersamaan tersebut memiliki makna lebih besar. Persoalan lingkungan yang muncul di wilayah dapat diselesaikan melalui komunikasi, koordinasi, dan musyawarah bersama.
Kampung tidak harus selalu menunggu bantuan datang. Ketika ada persoalan, warga dapat bergerak. Ketika ada kebutuhan, masyarakat dapat bermusyawarah. Dan ketika ada peluang, organisasi kampung dapat membangun kemandiriannya.
“Merupakan keberhasilan bersama ketika kampung secara mandiri bisa menyelesaikan persoalan lingkungan dengan musyawarah mufakat. FKPT juga bisa melakukan kegiatan lingkungan yang menghasilkan pendanaan bagi jalannya roda organisasi secara mandiri,” tegas Herman.
Di tengah keterbatasan dukungan pendanaan, FKPT Bangirejo terus berupaya mengembangkan semangat kemandirian. Bagi organisasi kampung, keberhasilan bukan hanya diukur dari besarnya kegiatan, tetapi dari kemampuan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hari itu, sebuah pohon dipangkas. Kabel PLN diamankan dari potensi gangguan. Buah matoa dipanen bersama. Dan yang tak kalah penting, hubungan antara pemerintah, FKPT, dan warga semakin erat.
Dari sebuah kegiatan sederhana lahir pesan yang kuat: kampung yang bergerak bersama adalah kampung yang mampu menyelesaikan persoalannya sendiri.
Gotong royong bukan sekadar bekerja bersama. Gotong royong adalah cara kampung menjaga lingkungan, merawat kebersamaan, dan membangun kemandirian.
Muncul dilapangan permintaan masyarakat akan pohon pohon di wilayah di luar pagar yang menimbulkan keresahan karena dahannya mengenai kabel instalasi PLN dan berharap tim lapangan Polisi Pamong Praja bisa membantu melakukan pruning pohon pohon di wilayah Bangirejo agar memberi rasa nyaman bila ada angin ribut dan hujan angin tidak terjadi konsleting. ( LH )

Social Header