NUSANEWS.COM || YOGYAKARTA — Jam Belajar Masyarakat (JBM) kembali menggeliat di tengah masyarakat Kota Yogyakarta. Di Kelurahan Tegalrejo, program ini bukan hanya menjadi ruang tambahan bagi anak-anak untuk belajar, tetapi mulai tumbuh sebagai gerakan bersama warga untuk membangun kebiasaan belajar, memperkuat interaksi sosial, sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.
Semangat tersebut mengemuka dalam launching kegiatan JBM Kelurahan Tegalrejo yang berlangsung di Balai RK RW 06 Tegalrejo, Senin (14/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Yogyakarta Agus Trimadi, S.I.P., M.Acc., Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat beserta jajaran, Mantri Pamong Praja Kemantren Tegalrejo Drs. Antariksa Agus Purnama, M.Si., para lurah se-Kemantren Tegalrejo, Pinisepuh Tuwanggono, ketua kampung, ketua RT/RW, guru pengajar, pendamping JBM, serta perwakilan orang tua.
Suasana diskusi berlangsung hidup. Para orang tua tidak hanya menyampaikan apresiasi, tetapi juga berharap JBM tidak berhenti sebagai program sesaat. Mereka ingin kegiatan tersebut terus hadir secara rutin dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Bagi orang tua, JBM memberikan ruang bagi anak untuk belajar bersama teman-temannya dalam suasana lingkungan masyarakat. Anak tidak hanya duduk di rumah dengan telepon genggam, tetapi memiliki aktivitas yang mendorong mereka untuk berinteraksi, belajar dan bersosialisasi.
Harapan tersebut sejalan dengan arah program yang disampaikan Agus Trimadi. Menurutnya, Dispora Kota Yogyakarta tengah mendorong kembali budaya belajar masyarakat melalui JBM yang saat ini dimulai di empat kelurahan sebagai percontohan.
Program tersebut diharapkan dapat berkembang hingga diterapkan di 45 kelurahan di Kota Yogyakarta.
Namun, Agus menegaskan bahwa keberhasilan JBM tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kekuatan kolaborasi antara orang tua, guru, pemerintah wilayah, tokoh masyarakat dan seluruh elemen masyarakat.
JBM, dengan demikian, tidak hanya dipandang sebagai kegiatan pendidikan, melainkan sebagai gerakan bersama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Dukungan juga disampaikan Mantri Pamong Praja Kemantren Tegalrejo Drs. Antariksa Agus Purnama, M.Si. Ia menilai keterlibatan lurah, Tuwanggono dan masyarakat sangat penting untuk menjaga keberlanjutan JBM.
Salah satu bentuk dukungan konkret yang didorong adalah memasukkan kebutuhan kegiatan JBM dalam proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan (Musrenbangkel). Dengan demikian, kegiatan yang tumbuh dari kebutuhan masyarakat dapat memperoleh dukungan yang lebih kuat dalam perencanaan pembangunan wilayah.
Sementara itu, Agung, S.Pd., perwakilan guru pengajar, menjelaskan bahwa kegiatan JBM telah berjalan selama sepekan. Kegiatan dilaksanakan setiap Senin hingga Kamis dengan sistem kelompok belajar.
Siswa kelas 1–3 SD ditempatkan dalam kelompok kelas kecil, sedangkan siswa kelas 4–6 mengikuti kelompok kelas besar. Pola tersebut dibuat agar proses pendampingan dan pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif sesuai usia dan kebutuhan anak.
Dari sisi masyarakat, JBM juga dinilai membawa dampak sosial yang nyata.
H. Haryanto, S.E., S.T., Pinisepuh Tuwanggono Kelurahan Kricak sekaligus anggota Komisi A DPRD Kota Yogyakarta, menyebut JBM sebagai kegiatan positif yang patut dipertahankan dan diperluas.
Menurutnya, manfaat JBM tidak hanya dirasakan anak. Kehadiran orang tua yang mengantar dan mendampingi anak juga menciptakan interaksi baru antarorang tua dan mempererat hubungan sosial warga.
Ia menilai kondisi tersebut jauh lebih positif dibandingkan apabila anak hanya berada di rumah dan menghabiskan waktu dengan gawai.
Karena itu, Haryanto mendorong agar kegiatan JBM yang telah berjalan di masyarakat mendapatkan perhatian dan dukungan penganggaran melalui Musrenbang.
“Jangan sampai kegiatan positif yang sudah tumbuh dari masyarakat justru berhenti karena keterbatasan dukungan. JBM perlu diperkuat bersama,” menjadi semangat yang mengemuka dalam forum tersebut.
Dalam sesi diskusi, suara orang tua menjadi salah satu bagian penting. Mereka mengaku terbantu dengan adanya JBM karena anak mendapatkan tambahan ruang belajar sekaligus aktivitas positif di lingkungan sekitar.
Kesamaan pandangan pun menguat: JBM harus terus berjalan, dikembangkan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di masing-masing wilayah.
Lurah, Tuwanggono, guru, pendamping dan orang tua memiliki peran yang saling melengkapi. Pemerintah memberikan dukungan kebijakan, guru menguatkan proses pembelajaran, pendamping menggerakkan kegiatan di wilayah, sementara orang tua menjadi bagian utama dalam memastikan anak mengikuti kegiatan.
K. Herman Setiawan selaku Koordinator Pendamping JBM Kemantren Tegalrejo, didampingi Pendamping JBM Kelurahan Tegalrejo Dwi Rustanto dan Purnomo, turut memandu jalannya kegiatan.
Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk memastikan JBM tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Dari Tegalrejo, semangat itu kembali ditegaskan: budaya belajar anak tidak cukup dibangun di ruang kelas. Ia harus tumbuh dari rumah, lingkungan dan masyarakat.
JBM diharapkan menjadi salah satu jalan untuk menghadirkan kembali lingkungan yang membuat anak senang belajar, senang bersosialisasi dan memiliki kegiatan positif di luar penggunaan gawai.
Jika gerakan ini terus diperkuat, JBM bukan hanya menjadi program pendidikan masyarakat, tetapi dapat menjadi gerakan bersama warga Yogyakarta dalam membangun generasi yang lebih aktif, mandiri dan berkarakter. ( LH )

Social Header