Tema ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pesan yang selalu diangkat setiap tahun, mulai dari Ojo Leren Dadi Wong Apik (2022), Urip Iku Urup (2023), Wang Sinawang (2024), hingga Lir Ilir pada tahun lalu. Penasehat Padhang Bulan Fest, Ustadz Salim A. Fillah, menjelaskan nama ini diambil langsung dari lirik tembang legendaris Lir-ilir, karya dakwah Wali Songo yang telah berabad-abad menjadi jembatan penyebaran ajaran Islam melalui pendekatan budaya yang akrab di hati masyarakat.
"Salah satu bait yang paling dikenal berbunyi: 'Mumpung padhang rembulane...' yang bermakna 'selagi bulan masih bersinar terang'," ungkapnya dalam konferensi pers di Aula Lantai 2 Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Selasa (21/7/2026).
Lebih dari sekadar gambaran cahaya malam, "Padhang Bulan" memiliki makna ganda yang kaya. Dalam pandangan budaya Jawa, ini adalah simbol momen ketika jalan yang tadinya samar mulai terlihat jelas, hati yang gelisah menemukan arah, dan manusia mampu mengenali diri sendiri dengan lebih jernih. Sementara dalam ajaran Islam, cahaya adalah lambang petunjuk mutlak dari Allah SWT.
"Kami ingin mengajak seluruh elemen untuk meraih pencerahan rohani, membersihkan jiwa, menumbuhkan cahaya keimanan, hingga menyadari kembali tujuan hidup kita sebagai hamba Allah," tambahnya.
Dahulu, masyarakat Jawa kerap memanfaatkan malam terang bulan sebagai waktu berkumpul, bertukar hikmah, dan mempererat persaudaraan. Semangat inilah yang ingin dihidupkan kembali melalui festival ini.
Target Capaian Lebih Tinggi dari Tahun Sebelumnya
Berdasarkan data capaian tahun lalu, Lir Ilir Fest 2025 berhasil menghadirkan lebih dari 23.000 jamaah di lokasi, serta menjangkau jutaan orang di seluruh Indonesia melalui media sosial. Berbekal kesuksesan tersebut, penyelenggaraan tahun ini menargetkan kehadiran lebih dari 30.000 peserta dari berbagai daerah, dengan potensi jangkauan digital yang bisa menyentuh hingga 50 juta orang berkat kolaborasi bersama berbagai media dakwah nasional.
Ketua Panitia Pelaksana, Muhammad Akhid Subianto, mengumumkan acara akan berlangsung di Jogja Expo Center (JEC) pada 18 hingga 21 September 2026. Rangkaian kegiatan diawali dengan Safari Padhang Bulan, kemudian Festival Padhang Bulan berlangsung penuh pada Sabtu, 19 September hingga Ahad, 20 September 2026.
"Alhamdulillah, atas izin Allah SWT kita kembali dipercaya menyelenggarakan acara besar ini. Tahun ini kami kembali menghadirkan dua rangkaian utama, yaitu Safari Para Asatidz serta Festival Padhang Bulan," ujarnya.
Akhid menegaskan acara sebesar ini tidak bisa berjalan sendirian. Ia mengundang seluruh komunitas dakwah, lembaga, organisasi kemudahan, dan masyarakat umum untuk bergotong royong. "Dakwah harus dikuatkan dengan kebersamaan, kita saling membutuhkan dan saling menguatkan satu sama lain," katanya.
Terkait persiapan, jumlah panitia tahun ini berkurang menjadi sekitar 500 orang, dibandingkan tahun lalu yang mencapai hampir 1.000 orang. "Meski lebih ramping, kami semakin matang dan kompak. Kami yakin kekompakan ini akan menghasilkan acara yang lebih berkesan," tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Akhid memohon doa restu dari seluruh masyarakat. "Semoga segala persiapan hingga pelaksanaan nanti berjalan lancar, sukses, dan senantiasa dilimpahi keberkahan Allah Subhanahu wa Ta'ala," pungkasnya.
Kini seluruh masyarakat menanti momen ketika cahaya rembulan tidak lagi sekadar menerangi malam, melainkan menjadi cahaya petunjuk bagi hati dan perekat persaudaraan umat.)

Social Header