NUSANEWS COM || Yogyakarta, 24 Juni 2026 — Calon Ketua Umum Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI), BMW-PS, menegaskan bahwa organisasi intelektual Kristen tidak boleh lagi terjebak dalam rutinitas yang stagnan dan minim dampak. Ia menyerukan perubahan mendasar agar PIKI bertransformasi menjadi kekuatan intelektual yang berani, progresif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan mengusung tema bertanding untuk bersanding melayani gereja, masyarakat dan negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Dr. Michael Watimena, SE , SH., MM. dalam kegiatan roadshow sosialisasi visi-misi yang digelar di Yogyakarta. Dengan mengusung visi “Menyatakan Kasih dan Kebenaran”, ia menekankan pentingnya keberanian untuk keluar dari pola lama yang hanya berorientasi pada diskusi tanpa implementasi nyata.
“PIKI tidak boleh terus berjalan di tempat. Kita harus berani keluar dari zona nyaman dan menghadirkan solusi konkret bagi persoalan bangsa,” tegasnya.
Menurut Dr. Michael Watimena, SE., SH., MM.
BMW-PS, selama ini kontribusi intelektual Kristen belum optimal dalam menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan kebangsaan. Ia menilai PIKI harus berhenti menjadi sekadar ruang wacana, dan mulai mengambil peran sebagai motor penggerak perubahan.
“Tidak cukup hanya berkumpul dan berdiskusi. PIKI harus tampil memimpin, menawarkan solusi, dan menghadirkan dampak nyata,” ujarnya.
Dorongan Paradigma Baru yang Lebih Progresif
BMW-PS juga menyampaikan kritik konstruktif terhadap arah organisasi yang dinilai belum maksimal dalam merespons isu-isu strategis. Ia menekankan bahwa PIKI perlu mengadopsi pendekatan yang lebih progresif, baik dalam konteks keumatan maupun kebangsaan.
Di tingkat keumatan, ia mendorong penguatan kapasitas intelektual Kristen agar mampu bersaing dalam ruang pemikiran publik.
Sementara dalam konteks nasional, PIKI diharapkan mengambil posisi aktif dalam menjaga persatuan dan memperjuangkan keadilan sosial.
“PIKI tidak boleh menjadi penonton dalam dinamika bangsa. Kita harus hadir sebagai pelaku utama perubahan,” tegasnya.
Empat Pilar Transformasi PIKI
Sebagai arah konkret, Dr. Michael Wattimena, SE., SH., MM. - Pdt. Penrad Siagian, S. Th.M.Si. Teol. ( BMW-PS ) menawarkan kerangka transformasi berbasis empat pilar utama:
Intelektual (Faith & Reason): Mendorong pemikiran kritis, tajam, dan solutif terhadap isu kontemporer.
Spiritualitas: Menjaga integritas iman sebagai fondasi dalam setiap langkah intelektual.
Sosial & Profesi: Menggerakkan keilmuan menjadi aksi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Jejaring (Networking): Membangun kolaborasi lintas sektor untuk memperluas pengaruh dan kontribusi.
Dari Retorika ke Dampak Nyata
BMW-PS menegaskan bahwa kepemimpinannya akan berorientasi pada hasil, bukan sekadar aktivitas seremonial. Ia ingin memastikan PIKI menjadi organisasi yang hidup, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi gereja, masyarakat, dan bangsa.
“Jika ingin tetap relevan, PIKI harus berubah. Ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Saatnya kita melompat lebih jauh dan meninggalkan pola lama,” pungkasnya.
Momentum pemilihan Ketua Umum PIKI dinilai sebagai titik krusial dalam menentukan masa depan organisasi—apakah tetap berada di zona nyaman, atau bertransformasi menjadi kekuatan intelektual yang diperhitungkan di tingkat nasional. (LH)

Social Header